Sustainable Living?

Beberapa hari ini saya lagi giat-giatnya baca-baca blog MessyHomestead milik mba Deasi Srihandi, founder Green Mommy Indonesia. Kenal Green Mommy sebenernya sudah lama. Kepikiran untuk living sustainably pun udah lama. Hanya saja sekedar keinginan tanpa eksekusi dan belajar 🙁

Nah, sejak tinggal di Lampung Januari 2017 lalu saya mulai giat berkebun, something unforeseen wkwk… Ternyata saya bisa bercocok tanam. Rasanya sangat menyenangkan. Bangun pagi yang kepikiran taneman ^^” Padahal abis disiram cuma lihat-lihat daun doank. Sempet desperate gara-gara si Kyoshi dan Pikaori (kelinci gendut piaraan Arkan) makanin semua taneman saya. ih! pengen tak jadiin sate, untung aja udah kadung sayang.

Lama-lama mulai keranjingan. Dan beberapa hari ini qodarullah dipertemukan lagi dengan blog MessyHomestead, padahal sebelumnya udah pernah ketemu dengan blog ini, cuma ngga dipelajari. Saya sangat terinspirasi sekali dengan kehidupan keluarga Mba Deasi. Belum sampai ke level eco village, tapi gara-gara baca blog beliau saya jadi pengen banget punya sustainable house. Di Lampung masih bisa banget nyari lahan luas untuk membangun lingkungan rumah seperti itu. Tinggal duitnya hehe…

What is sustainable living? 

In short, sustainable living means practising a lifestyle that uses as few of Earth’s natural resources as possible, in an attempt to create the least amount of environmental damage for future generations. (click here for more detail >> backyardchickencoops.com : What is Sustainable Living)

Ada beberapa rencana yang udah bersliweran di kepala saya to start living sustainably :

1. Mengurangi Makan di luar rumah

Ini adalah tahap awal yang harus saya minimalisir. Untuk yang suka kulineran diluar kayak saya tahap ini termasuk cobaan berat hehe.. tapi kudu dicoba demi hidup sehat.

2. Berkebun

Sudah dimulai beberapa bulan belakangan. Terutama bahan-bahan masak pokok seperti rampai (tomat kecil), cabe, daun bawang, daun sop, terong, dll. Lumayan kan ngurangin groceries expense.

3. Masak di rumah

Mau ngga mau saya harus lebih sering masak di rumah.

4. Kitchen Plan

Ngrencanain menu dan belanjaan. Nah pas banget ada tukang sayur langganan. Kayaknya bisa diaplikasiin ide pre-oder belanjaan.

5. Menyingkirkan barang-barang tidak terpakai

Karena efek pindah ke rumah dinas yang lebih kecil dari sebelumnya jadinya barang terasa lebih banyak.

6. Meminimalisir sampah

Yang ini sudah berjalan. Terutama pemisahan sampah. Karena di rumah lagi booming berkebun :p Umi Arkan jadi rajin banget ngumpulin sampah dapur untuk dijadiin pupuk.

Beberapa poin ada yang sedang berjalan, ada juga yang udah dilakukan tapi masih setengah-setengah. Starting-nya mudah, istiqomah-nya ituu yang gampang gampang susah, hiks. Next plan masih digodok dan mau didiskusiin lagi sama Pak Suami. Tapi the biggest plan-nya untuk sementara adalah pengen punya tanah yang luas so bisa bangun rumah yang sustainable dan eco friendly 🙂 aamiin aamiin aamiin… Bantu kami ya Rabb…

Leave a Reply